Ada seorang perempuan tua yang taat beragama, tetapi suaminya seorang yang fasik dan tidak mau mengerjakan kewajiban agama dan tidak mau berbuat kebaikan. Perempuan itu senantiasa membaca Bismillah setiap kali hendak bercakap dan setiap kali dia hendak memulai sesuatu senantiasa didahului dengan Bismillah. Suaminya tidak suka dengan sikap istrinya dan senantiasa memperolok-olokkan isterinya. Suaminya berkata sambil mengejek, "Asyik Bismillah, Bismillah. Sekejap-sekejap Bismillah". Isterinya tidak berkata apa-apa sebaliknya dia berdoa kepada Allah S.W.T. supaya memberikan hidayah kepada suaminya. Suatu hari suaminya berkata : "Suatu hari nanti akan aku buat kamu kecewa dengan bacaan-bacaanmu itu".
Untuk membuat sesuatu yang memeranjatkan isterinya, dia memberikan uang yang banyak kepada isterinya dengan berkata, "Simpan duit ini". Isterinya mengambil duit itu dan menyimpan di tempat yang selamat, di samping itu suaminya telah melihat tempat yang disimpan oleh isterinya. Kemudian dengan senyap-senyap suaminya itu mengambil duit tersebut dan mencampakkan beg duit ke dalam perigi di belakang rumahnya. Setelah beberapa hari kemudian suaminya itu memanggil isterinya dan berkata, "Berikan padaku uang yang aku berikan kepada engkau dahulu untuk disimpan". Kemudian isterinya pergi ke tempat dia menyimpan duit itu dan diikuti oleh suaminya dengan berhati-hati dia menghampiri tempat dia menyimpan duit itu, dia membuka dengan membaca "Bismillahirrahmanirrahiim". Ketika itu Allah S.W.T. menghantar malaikat Jibril as. untuk mengembalikan beg duit dan menyerahkan duit itu kepada suaminya kembali. Alangkah terperanjat suaminya, dia berasa bersalah dan mengaku segala perbuatannya kepada isterinya, ketika itu juga dia bertaubat dan mulai mengerjakan perintah Allah, dan dia juga membaca Bismillah apabila dia hendak memulai sesuatu pekerjaan.
Saturday, November 21, 2009
KISAH PEMUDA BERIBU-BAPAKKAN BABI
Nabi Musa adalah satu-satunya nabi yang boleh bercakap langsung dengan Allah S.W.T Setiap kali dia hendak bermunajat, nabi Musa akan naik ke Bukit Tursina. Di atas bukit itulah dia akan bercakap dengan Allah. Nabi Musa sering bertanya dan Allah akan menjawab pada waktu itu juga. Inilah kelebihannya yang tidak ada pada nabi-nabi lain. Suatu hari nabi Musa telah bertanya kepada Allah. "Ya Allah, siapakah orang di surga nanti yang akan berjiran dengan aku?". Allah pun menjawab dengan mengatakan nama orang itu, kampung serta tempat tinggalnya. Setelah mendapat jawaban, nabi Musa turun dari Bukit Tursina dan terus berjalan menuju tempat yang diberitahu. Setelah beberapa hari di dalam perjalanan akhirnya sampai juga nabi Musa di tempat berkenaan.
Dengan pertolongan beberapa orang penduduk di situ, beliau berjaya bertemu dengan orang tersebut. Setelah memberi salam beliau dipersilakan masuk dan duduk di ruang tamu. Tuan rumah itu tidak melayani nabi Musa. Dia masuk ke dalam bilik dan melakukan sesuatu di dalam. Sebentar kemudian dia keluar sambil membawa seekor babi betina yang besar. Babi itu didukungnya dengan cermat. Nabi Musa terkejut melihatnya. "Apa hal ini?”, kata nabi Musa berbisik dalam hatinya penuh keheranan.
Bayi itu dibersihkan dan dimandikan dengan baik. Setelah itu babi itu dilap sampai kering serta dipeluk cium kemudian dihantar ke dalam bilik. Tidak lama kemudian dia keluar sekali lagi dengan membawa pula seekor babi jantan yang lebih besar. Babi itu juga dimandikan dan dibersihkan. Kemudian dilap hingga kering dan dipeluk serta cium dengan penuh kasih sayang. Babi itu kemudian dihantarnya ke bilik. Selesai kerjanya barulah dia melayani nabi Musa. "Wahai saudara! Apa agama kamu?". "Aku agama Tauhid", jawab pemuda itu yaitu agama Islam. "Habis, mengapa kamu membela babi?, kita tidak boleh berbuat begitu", kata Nabi Musa. "Wahai tuan hamba", kata pemuda itu. "Sebenarnya kedua babi itu adalah ibu bapak kandungku. Oleh karena mereka telah melakukan dosa yang besar, Allah telah menukarkan rupa mereka menjadi babi yang bodoh rupanya. Soal dosa mereka dengan Allah itu soal lain. Itu urusannya dengan Allah. Aku sebagai anaknya tetap melaksanakan kewajibanku sebagai anak. Hari-hari aku berbakti kepada kedua ibu bapakku sebagai mana yang Tuan Hamba lihat tadi. Walaupun rupa mereka sudah menajdi babi, aku tetap melaksanakan tugasku", sambungnya, "Setiap hari aku berdo’a kepada Allah agar mereka diampunkan. Aku bermohon supaya Allah menukarkan wajah mereka menjadi manusia yang sebenarnya, tetapi Allah masih belum mengabulkan lagi", tambah pemuda itu lagi.
Maka ketika itu juga Allah menurunkan wahyu kepada nabi Musa a.s. “Wahai Musa, inilah orang yang akan berjiran dengan kamu di surga nanti, hasil baktinya yang sangat tinggi kepada kedua ibu bapaknya. Ibu bapaknya yang sudah buruk dengan rupa babi pun dia berbakti juga. Oleh karena itu Kami naikkan maqamnya sebagai anak sholeh disisi Kami". Allah juga berfirman lagi yang bermaksud : "Oleh karena dia telah berada di maqam anak yang sholeh disisi Kami, maka Kami angkat do’anya. Tempat kedua ibu bapaknya yang Kami sediakan di dalam neraka telah Kami pindahkan ke dalam surga". Itulah berkat anak yang sholeh. Do’a anak yang sholeh dapat menebus dosa ibu bapak yang akan masuk ke dalam neraka pindah ke surga. Ini juga hendaklah dengan syarat dia berbakti kepada ibu bapaknya. Walaupun hingga ke peringkat rupa ayah dan ibunya seperti babi. Mudah-mudahan ibu bapak kita mendapat tempat yang baik di akhirat kelak.
Walau bagaimana buruk sekali pun perangai kedua ibu bapak kita, itu bukan urusan kita, urusan kita ialah menjaga mereka dengan penuh kasih sayang sebagai mana mereka menjaga kita sewaktu kecil hingga dewasa. Walau sekali pun banyak dosa yang mereka lakukan, itu juga bukan urusan kita, urusan kita ialah meminta ampun kepada Allah S.W.T supaya kedua ibu bapak kita diampuni Allah S.W.T. Do’a anak yang sholeh akan membantu kedua ibu bapaknya mendapat tempat yang baik di akhirat, inilah yang dinanti-nantikan oleh para ibu bapak di alam kubur. Arti sayang seorang anak kepada ibu dan bapaknya bukan melalui hantaran uang ringgit, tetapi sayang seorang anak pada kedua ibu bapaknya ialah dengan do’anya supaya kedua ibu bapaknya mendapat tempat yang terbaik di sisi Allah.
Dengan pertolongan beberapa orang penduduk di situ, beliau berjaya bertemu dengan orang tersebut. Setelah memberi salam beliau dipersilakan masuk dan duduk di ruang tamu. Tuan rumah itu tidak melayani nabi Musa. Dia masuk ke dalam bilik dan melakukan sesuatu di dalam. Sebentar kemudian dia keluar sambil membawa seekor babi betina yang besar. Babi itu didukungnya dengan cermat. Nabi Musa terkejut melihatnya. "Apa hal ini?”, kata nabi Musa berbisik dalam hatinya penuh keheranan.
Bayi itu dibersihkan dan dimandikan dengan baik. Setelah itu babi itu dilap sampai kering serta dipeluk cium kemudian dihantar ke dalam bilik. Tidak lama kemudian dia keluar sekali lagi dengan membawa pula seekor babi jantan yang lebih besar. Babi itu juga dimandikan dan dibersihkan. Kemudian dilap hingga kering dan dipeluk serta cium dengan penuh kasih sayang. Babi itu kemudian dihantarnya ke bilik. Selesai kerjanya barulah dia melayani nabi Musa. "Wahai saudara! Apa agama kamu?". "Aku agama Tauhid", jawab pemuda itu yaitu agama Islam. "Habis, mengapa kamu membela babi?, kita tidak boleh berbuat begitu", kata Nabi Musa. "Wahai tuan hamba", kata pemuda itu. "Sebenarnya kedua babi itu adalah ibu bapak kandungku. Oleh karena mereka telah melakukan dosa yang besar, Allah telah menukarkan rupa mereka menjadi babi yang bodoh rupanya. Soal dosa mereka dengan Allah itu soal lain. Itu urusannya dengan Allah. Aku sebagai anaknya tetap melaksanakan kewajibanku sebagai anak. Hari-hari aku berbakti kepada kedua ibu bapakku sebagai mana yang Tuan Hamba lihat tadi. Walaupun rupa mereka sudah menajdi babi, aku tetap melaksanakan tugasku", sambungnya, "Setiap hari aku berdo’a kepada Allah agar mereka diampunkan. Aku bermohon supaya Allah menukarkan wajah mereka menjadi manusia yang sebenarnya, tetapi Allah masih belum mengabulkan lagi", tambah pemuda itu lagi.
Maka ketika itu juga Allah menurunkan wahyu kepada nabi Musa a.s. “Wahai Musa, inilah orang yang akan berjiran dengan kamu di surga nanti, hasil baktinya yang sangat tinggi kepada kedua ibu bapaknya. Ibu bapaknya yang sudah buruk dengan rupa babi pun dia berbakti juga. Oleh karena itu Kami naikkan maqamnya sebagai anak sholeh disisi Kami". Allah juga berfirman lagi yang bermaksud : "Oleh karena dia telah berada di maqam anak yang sholeh disisi Kami, maka Kami angkat do’anya. Tempat kedua ibu bapaknya yang Kami sediakan di dalam neraka telah Kami pindahkan ke dalam surga". Itulah berkat anak yang sholeh. Do’a anak yang sholeh dapat menebus dosa ibu bapak yang akan masuk ke dalam neraka pindah ke surga. Ini juga hendaklah dengan syarat dia berbakti kepada ibu bapaknya. Walaupun hingga ke peringkat rupa ayah dan ibunya seperti babi. Mudah-mudahan ibu bapak kita mendapat tempat yang baik di akhirat kelak.
Walau bagaimana buruk sekali pun perangai kedua ibu bapak kita, itu bukan urusan kita, urusan kita ialah menjaga mereka dengan penuh kasih sayang sebagai mana mereka menjaga kita sewaktu kecil hingga dewasa. Walau sekali pun banyak dosa yang mereka lakukan, itu juga bukan urusan kita, urusan kita ialah meminta ampun kepada Allah S.W.T supaya kedua ibu bapak kita diampuni Allah S.W.T. Do’a anak yang sholeh akan membantu kedua ibu bapaknya mendapat tempat yang baik di akhirat, inilah yang dinanti-nantikan oleh para ibu bapak di alam kubur. Arti sayang seorang anak kepada ibu dan bapaknya bukan melalui hantaran uang ringgit, tetapi sayang seorang anak pada kedua ibu bapaknya ialah dengan do’anya supaya kedua ibu bapaknya mendapat tempat yang terbaik di sisi Allah.
ANJING-ANJING NERAKA
Sabda Rasulullah S.A.W kepada Mu'adz, "Wahai Mu'adz, apabila di dalam amal perbuatanmu itu ada kekurangan :
Jagalah lisanmu supaya tidak terjatuh di dalam ghibah terhadap saudaramu/muslimin.
Bacalah Al-Qur'an
Tanggunglah dosamu sendiri untukmu dan jangan engkau tanggungkan dosamu kepada orang lain
Jangan engkau mensucikan dirimu dengan mencela orang lain
Jangan engkau tinggikan dirimu sendiri di atas mereka
Jangan engkau masukkan amal perbuatan dunia ke dalam amal perbuatan akhirat
Jangan engkau menyombongkan diri pada kedudukanmu supaya orang takut kepada perangaimu yang tidak baik
Jangan engkau membisikkan sesuatu sedangkan di dekatmu ada orang lain
Jangan engkau merasa tinggi dan mulia dari pada orang lain
Jangan engkau sakitkan hati orang dengan ucapan-ucapanmu
Niscaya di akhirat nanti, kamu akan dirobek-robek oleh anjing neraka. Sabda Rasulullah S.A.W. "Dia adalah anjing-anjing di dalam neraka yang akan merobek-robek daging orang (yang menyakiti hati) dengan lisannya, dan anjing itu pun merobek serta menggigit tulangnya". Kata Mu'adz, " Ya Rasulullah, siapakah yang dapat bertahan terhadap keadaan seperti itu, dan siapa yang dapat terselamatkan dari padanya?". Sabda Rasulullah S.A.W. "Sesungguhnya hal itu mudah lagi ringan bagi orang yang telah dimudahkan serta diringankan oleh Allah S.W.T.".
Jagalah lisanmu supaya tidak terjatuh di dalam ghibah terhadap saudaramu/muslimin.
Bacalah Al-Qur'an
Tanggunglah dosamu sendiri untukmu dan jangan engkau tanggungkan dosamu kepada orang lain
Jangan engkau mensucikan dirimu dengan mencela orang lain
Jangan engkau tinggikan dirimu sendiri di atas mereka
Jangan engkau masukkan amal perbuatan dunia ke dalam amal perbuatan akhirat
Jangan engkau menyombongkan diri pada kedudukanmu supaya orang takut kepada perangaimu yang tidak baik
Jangan engkau membisikkan sesuatu sedangkan di dekatmu ada orang lain
Jangan engkau merasa tinggi dan mulia dari pada orang lain
Jangan engkau sakitkan hati orang dengan ucapan-ucapanmu
Niscaya di akhirat nanti, kamu akan dirobek-robek oleh anjing neraka. Sabda Rasulullah S.A.W. "Dia adalah anjing-anjing di dalam neraka yang akan merobek-robek daging orang (yang menyakiti hati) dengan lisannya, dan anjing itu pun merobek serta menggigit tulangnya". Kata Mu'adz, " Ya Rasulullah, siapakah yang dapat bertahan terhadap keadaan seperti itu, dan siapa yang dapat terselamatkan dari padanya?". Sabda Rasulullah S.A.W. "Sesungguhnya hal itu mudah lagi ringan bagi orang yang telah dimudahkan serta diringankan oleh Allah S.W.T.".
KISAH LIMA PERKARA ANEH
Abu Laits As-Samarqandi adalah seorang ahli fiqih yang masyhur. Suatu ketika beliau pernah berkata, “Ayahku menceritakan bahwa antara nabi-nabi yang bukan rasul ada yang menerima wahyu dalam bentuk mimpi dan ada yang hanya mendengar suara. Maka salah seorang nabi yang menerima wahyu melalui mimpi itu, pada suatu malam bermimpi diperintahkan yang berbunyi, "Esok engkau dikehendaki keluar dari rumah pada waktu pagi menuju ke barat. Engkau dikehendaki berbuat, pertama: apa yang engkau lihat (hadapi) maka makanlah; kedua: engkau sembunyikan; ketiga: engkau terimalah; keempat: jangan engkau putuskan harapan; yang kelima: larilah engkau dari padanya".
Pada keesokan harinya, nabi itu pun keluar dari rumahnya menuju ke barat dan kebetulan yang pertama dihadapinya ialah sebuah bukit besar berwarna hitam. Nabi itu kebingungan sambil berkata, "Aku diperintahkan memakan yang pertama aku hadapi, tapi sungguh aneh sesuatu yang mustahil yang tidak dapat dilaksanakan". Maka nabi itu terus berjalan menuju ke bukit itu dengan hasrat untuk memakannya. Ketika dia menghampirinya, tiba-tiba bukit itu mengecilkan diri sehingga menjadi sebesar buku roti. Maka nabi itu pun mengambilnya lalu disuapkan ke mulutnya. Bila ditelan terasa sungguh manis bagaikan madu. Dia pun mengucapkan syukur 'Alhamdulillah'. Kemudian nabi itu meneruskan perjalanannya lalu bertemu pula dengan sebuah mangkuk emas. Dia teringat akan arahan mimpinya supaya disembunyikan, lantas nabi itu pun menggali sebuah lubang lalu ditanamkan mangkuk emas itu, kemudian ditinggalkannya. Tiba-tiba mangkuk emas itu keluar seperti semula. Nabi itu pun menanamkannya kembali sampai tiga kali berturut-turut.
Maka berkatalah nabi itu, "Aku telah melaksanakan perintah-Mu". Lalu dia pun meneruskan perjalanannya tanpa disadari oleh nabi itu yang mangkuk emas itu terkeluar semula dari tempat ia ditanam. Ketika dia sedang berjalan, tiba-tiba dia ternampak seekor burung elang sedang mengejar seekor burung kecil. Kemudian terdengarlah burung kecil itu berkata, "Wahai Nabi Allah, tolonglah aku". Mendengar rayuan burung itu, hatinya merasa simpati lalu dia pun mengambil burung itu dan dimasukkan ke dalam bajunya. Melihat keadaan itu, lantas burung elang itu pun datang menghampiri nabi itu sambil berkata, "Wahai Nabi Allah, aku sangat lapar dan aku mengejar burung itu sejak pagi tadi. Oleh karena itu janganlah engkau patahkan harapanku dari rezekiku". Nabi itu teringatkan pesanan arahan dalam mimpinya yang keempat, yaitu tidak boleh putuskan harapan. Dia menjadi kebingungan untuk menyelesaikan perkara itu. Akhirnya dia membuat keputusan untuk mengambil pedangnya lalu memotong sedikit daging pehanya dan diberikan kepada elang itu. Setelah mendapat daging itu, elang pun terbang dan burung kecil tadi dilepaskan dari dalam bajunya. Selepas kejadian itu, nabi meneruskan perjalannya. Tidak lama kemudian dia bertemu dengan satu bangkai yang amat busuk baunya, maka dia pun bergegas lari dari situ karena tidak tahan menghirup bau yang menyakitkan hidungnya. Setelah menemui kelima peristiwa itu, maka kembalilah nabi ke rumahnya. Pada malam itu, nabi pun berdoa. Dalam doanya dia berkata, "Ya Allah, aku telah melaksanakan perintah-Mu sebagaimana yang diberitahu di dalam mimpiku, maka jelaskanlah kepadaku arti semuanya ini".
Dalam mimpi beliau telah diberitahu oleh Allah S.W.T. bahawa, "Yang pertama engkau makan itu ialah marah. Pada mulanya nampak besar seperti bukit tetapi pada akhirnya jika bersabar dan dapat mengawal serta menahannya, maka marah itu pun akan menjadi lebih manis daripada madu. Kedua: semua amal kebaikan (budi), walaupun disembunyikan, maka ia tetap akan nampak jua. Ketiga: jika sudah menerima amanah seseorang, maka janganlah kamu khianat kepadanya. Keempat: jika orang meminta kepadamu, maka usahakanlah untuknya demi membantu kepadanya meskipun kau sendiri berhajat. Kelima: bau yang busuk itu ialah ghibah (menceritakan hal seseorang), maka larilah dari orang-orang yang sedang duduk berkumpul membuat ghibah".
Saudara-saudaraku, kelima kisah ini hendaklah kita semaikan dalam diri kita, sebab kelima perkara ini senantiasa berlaku dalam kehidupan kita sehari-hari. Perkara yang tidak dapat kita elakkan setiap hari ialah berkata akan hal orang, memang menjadi tabiat seseorang itu suka berkata tentang hal orang lain. Haruslah kita ingat bahwa kata-mengata hal seseorang itu akan menghilangkan pahala kita, sebab ada sebuah hadis mengatakan di akhirat nanti ada seorang hamba Allah akan terkejut melihat pahala yang tidak pernah dikerjakannya. Lalu dia bertanya, "Wahai Allah, sesungguhnya pahala yang Kamu berikan ini tidak pernah aku kerjakan di dunia dulu". Maka berkata Allah S.W.T., "Ini adalah pahala orang yang mengata-ngata tentang dirimu". Dengan ini haruslah kita sadar bahawa walaupun apa yang kita kata itu memang benar, tetapi kata-mengata itu akan merugikan diri kita sendiri. Oleh kerana itu, hendaklah kita jangan mengata hal orang walaupun ia benar.
Pada keesokan harinya, nabi itu pun keluar dari rumahnya menuju ke barat dan kebetulan yang pertama dihadapinya ialah sebuah bukit besar berwarna hitam. Nabi itu kebingungan sambil berkata, "Aku diperintahkan memakan yang pertama aku hadapi, tapi sungguh aneh sesuatu yang mustahil yang tidak dapat dilaksanakan". Maka nabi itu terus berjalan menuju ke bukit itu dengan hasrat untuk memakannya. Ketika dia menghampirinya, tiba-tiba bukit itu mengecilkan diri sehingga menjadi sebesar buku roti. Maka nabi itu pun mengambilnya lalu disuapkan ke mulutnya. Bila ditelan terasa sungguh manis bagaikan madu. Dia pun mengucapkan syukur 'Alhamdulillah'. Kemudian nabi itu meneruskan perjalanannya lalu bertemu pula dengan sebuah mangkuk emas. Dia teringat akan arahan mimpinya supaya disembunyikan, lantas nabi itu pun menggali sebuah lubang lalu ditanamkan mangkuk emas itu, kemudian ditinggalkannya. Tiba-tiba mangkuk emas itu keluar seperti semula. Nabi itu pun menanamkannya kembali sampai tiga kali berturut-turut.
Maka berkatalah nabi itu, "Aku telah melaksanakan perintah-Mu". Lalu dia pun meneruskan perjalanannya tanpa disadari oleh nabi itu yang mangkuk emas itu terkeluar semula dari tempat ia ditanam. Ketika dia sedang berjalan, tiba-tiba dia ternampak seekor burung elang sedang mengejar seekor burung kecil. Kemudian terdengarlah burung kecil itu berkata, "Wahai Nabi Allah, tolonglah aku". Mendengar rayuan burung itu, hatinya merasa simpati lalu dia pun mengambil burung itu dan dimasukkan ke dalam bajunya. Melihat keadaan itu, lantas burung elang itu pun datang menghampiri nabi itu sambil berkata, "Wahai Nabi Allah, aku sangat lapar dan aku mengejar burung itu sejak pagi tadi. Oleh karena itu janganlah engkau patahkan harapanku dari rezekiku". Nabi itu teringatkan pesanan arahan dalam mimpinya yang keempat, yaitu tidak boleh putuskan harapan. Dia menjadi kebingungan untuk menyelesaikan perkara itu. Akhirnya dia membuat keputusan untuk mengambil pedangnya lalu memotong sedikit daging pehanya dan diberikan kepada elang itu. Setelah mendapat daging itu, elang pun terbang dan burung kecil tadi dilepaskan dari dalam bajunya. Selepas kejadian itu, nabi meneruskan perjalannya. Tidak lama kemudian dia bertemu dengan satu bangkai yang amat busuk baunya, maka dia pun bergegas lari dari situ karena tidak tahan menghirup bau yang menyakitkan hidungnya. Setelah menemui kelima peristiwa itu, maka kembalilah nabi ke rumahnya. Pada malam itu, nabi pun berdoa. Dalam doanya dia berkata, "Ya Allah, aku telah melaksanakan perintah-Mu sebagaimana yang diberitahu di dalam mimpiku, maka jelaskanlah kepadaku arti semuanya ini".
Dalam mimpi beliau telah diberitahu oleh Allah S.W.T. bahawa, "Yang pertama engkau makan itu ialah marah. Pada mulanya nampak besar seperti bukit tetapi pada akhirnya jika bersabar dan dapat mengawal serta menahannya, maka marah itu pun akan menjadi lebih manis daripada madu. Kedua: semua amal kebaikan (budi), walaupun disembunyikan, maka ia tetap akan nampak jua. Ketiga: jika sudah menerima amanah seseorang, maka janganlah kamu khianat kepadanya. Keempat: jika orang meminta kepadamu, maka usahakanlah untuknya demi membantu kepadanya meskipun kau sendiri berhajat. Kelima: bau yang busuk itu ialah ghibah (menceritakan hal seseorang), maka larilah dari orang-orang yang sedang duduk berkumpul membuat ghibah".
Saudara-saudaraku, kelima kisah ini hendaklah kita semaikan dalam diri kita, sebab kelima perkara ini senantiasa berlaku dalam kehidupan kita sehari-hari. Perkara yang tidak dapat kita elakkan setiap hari ialah berkata akan hal orang, memang menjadi tabiat seseorang itu suka berkata tentang hal orang lain. Haruslah kita ingat bahwa kata-mengata hal seseorang itu akan menghilangkan pahala kita, sebab ada sebuah hadis mengatakan di akhirat nanti ada seorang hamba Allah akan terkejut melihat pahala yang tidak pernah dikerjakannya. Lalu dia bertanya, "Wahai Allah, sesungguhnya pahala yang Kamu berikan ini tidak pernah aku kerjakan di dunia dulu". Maka berkata Allah S.W.T., "Ini adalah pahala orang yang mengata-ngata tentang dirimu". Dengan ini haruslah kita sadar bahawa walaupun apa yang kita kata itu memang benar, tetapi kata-mengata itu akan merugikan diri kita sendiri. Oleh kerana itu, hendaklah kita jangan mengata hal orang walaupun ia benar.
AL-QUR'AN
Abu Umamah r.a. berkata : "Rasulullah S.A.W telah menganjurkan supaya kami semua mempelajari Al-Qur'an, setelah itu Rasulullah S.A.W memberitahu tentang kelebihan Al Qur'an". Telah bersabda Rasulullah S.A.W : “Belajarlah kamu akan Al-Qur'an, di akhirat nanti dia (Al-Qur’an) akan datang kepada ahli-ahlinya (para pembacanya), yang mana di kala itu orang sangat memerlukannya". Ia akan datang dalam bentuk seindah-indahnya dan ia bertanya, " Kenalkah kamu kepadaku?", maka orang yang pernah membaca akan menjawab : "Siapakah kamu?", maka berkata Al-Qur'an : "Akulah yang kamu cintai dan kamu sanjung, dan juga telah bangun malam untukku dan kamu juga pernah membacaku di waktu siang hari". Kemudian berkata orang yang pernah membaca Al-Qur'an itu : "Adakah kamu Al-Qur'an?", lalu Al-Qur'an mengakui dan menuntun orang yang pernah membaca menghadap Allah S.W.T. Lalu orang itu diberi kerajaan di tangan kanan dan kekal di tangan kirinya, kemudian dia meletakkan mahkota di atas kepalanya. Pada kedua ayah dan ibunya pula yang muslim diberi perhiasan yang tidak dapat ditukar dengan dunia walau berlipat ganda, sehingga keduanya bertanya : "Dari manakah kami memperoleh ini semua, padahal amal kami tidak sampai ini?". Lalu dijawab : "Kamu diberi ini semua karena anak kamu telah mempelajari Al-Qur'an".
Subscribe to:
Posts (Atom)